Tugas Penilaian Ekosistem Hutan                                                                       Medan,    Maret 2025

 

Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata pada Hutan Desa di Kecamatan Batu Ampar Kalimantan Barat

 

Dosen Penanggung Jawab :

Prof. Dr. Agus Purwoko S. Hut., M.Si.

 

Disusun Oleh :

Warisan Arfandi Siregar

247055006

 



PROGRAM STUDI MAGISTER KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2025




Judul Penelitian         : Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata pada Hutan Desa di Kecamatan Batu Ampar Kalimantan Barat

Nama-nama Penulis  : Abdul Jabbar, Rossie W. Nusantara, dan Aji Ali Akbar

Nama Jurnal               : Jurnal Ilmu Lingkungan (Program Studi Ilmu Lingkungan UNDIP)

 

Permasalahan Penelitian :

Masalah yang diangkat dalam jurnal ini adalah melihat tekanan terhadap ekosistem mangrove di Kecamatan Batu Ampar akibat konversi lahan untuk tambak udang dan produksi arang, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekowisata mangrove.

Tujuan dari Penelitian Ini adalah :

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kondisi ekosistem mangrove terhadap partisipasi masyarakat dan valuasi ekosistem mangrove berupa ekowisata dan hutan desa di Kecamatan Batu Ampar, Kalimantan Barat.

Metode Penelitian Yang Digunakan :

Penelitian ini dilakukan pada Januari–Mei 2020 di tiga desa di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan mempertimbangkan perbedaan dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem mangrove berbasis ekowisata.

1.   Identifikasi Ekosistem Mangrove

Metode penginderaan jauh digunakan untuk mengidentifikasi kondisi ekosistem mangrove berdasarkan modifikasi metode Purwanto et al. (2014). Citra satelit Landsat 8 (komposit RGB 564) dianalisis menggunakan indeks vegetasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk mengukur kerapatan vegetasi. NDVI berkisar antara -1 (air) hingga +1 (vegetasi lebat), dan hasilnya diklasifikasikan ke dalam lima kelas: badan air, non-vegetasi, vegetasi jarang, sedang, dan lebat.

·     NDVI :

Di mana NIR adalah Band 5 (inframerah dekat) dan Red adalah Band 4 (merah).

2.   Klasifikasi Kerapatan Mangrove

Kerapatan mangrove dihitung menggunakan rasio band inframerah dekat (NIR) dan band merah. Selain itu, panjang garis pantai tiap desa juga diukur. Kondisi mangrove ditentukan berdasarkan luas mangrove relatif terhadap luas desa, distribusi kelas kerapatan, dan ketebalan mangrove (luas mangrove dibagi panjang garis pantai).

3.   Persepsi Masyarakat

Metode survei deskriptif-kuantitatif digunakan untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap ekowisata mangrove. Sampel penelitian berjumlah 90 orang (30 per desa), dengan kuesioner berbasis skala Likert (1-5) untuk menilai pengetahuan, persepsi, dan partisipasi masyarakat. Data dianalisis dengan regresi linier berganda.

4.   Penilaian Ekonomi Ekosistem Mangrove

Metode Total Economic Value (TEV) digunakan untuk menilai manfaat ekonomi mangrove, mencakup nilai langsung (DV, seperti tambak dan perikanan), nilai tidak langsung (IV, seperti penghalang erosi), nilai opsi (OV, keanekaragaman hayati), dan nilai keberadaan (EV, kesediaan membayar). Perhitungan dilakukan dengan pendekatan compound untuk menyesuaikan nilai ekonomi dengan daya beli masyarakat menggunakan perbandingan Upah Minimum Regional (UMR).

Hasil Penelitian

Penelitian ini menilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove berbasis ekowisata di Kecamatan Batu Ampar, Kalimantan Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa dengan valuasi ekonomi tertinggi adalah Medan Mas sebesar Rp 95.354.976/ha/tahun, diikuti oleh Nipah Panjang sebesar Rp 76.645.333/ha/tahun, dan Batu Ampar sebesar Rp 68.195.913/ha/tahun. Kondisi ekosistem mangrove juga bervariasi di setiap desa. Desa Batu Ampar memiliki luas mangrove terbesar, yakni 58,2% dari total wilayah desa, dengan 93,8% di antaranya berkerapatan tinggi dan ketebalan mencapai 42.271 meter. Sementara itu, Nipah Panjang memiliki 6,4% wilayahnya berupa mangrove dengan kerapatan tinggi 98,6% dan ketebalan 24.088 meter, sedangkan Medan Mas hanya memiliki 4,5% wilayah mangrove dengan kerapatan tinggi 80,2% dan ketebalan 7.236 meter.

Persepsi masyarakat terhadap ekosistem mangrove dan ekowisata juga berbeda antar desa. Masyarakat Nipah Panjang memiliki persepsi tertinggi terhadap manfaat ekowisata dengan skor 3,7, diikuti oleh Medan Mas dengan skor 3,6, dan Batu Ampar dengan skor 3,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekosistem mangrove yang baik tidak selalu meningkatkan persepsi masyarakat atau valuasi ekonomi. Sebagai contoh, meskipun Batu Ampar memiliki ekosistem mangrove terbaik, valuasi ekonominya justru yang terendah. Sebaliknya, Nipah Panjang menunjukkan bahwa persepsi masyarakat yang tinggi dapat meningkatkan valuasi ekonomi sekaligus menjaga ekosistem mangrove. Di sisi lain, Medan Mas memiliki valuasi ekonomi tertinggi, tetapi tekanan terhadap ekosistem mangrovenya juga lebih besar.

Kesimpulan dan Saran Dari Penelitian ini

Kesimpulan

Hubungan antara kondisi ekosistem mangrove, persepsi masyarakat, dan valuasi ekonomi tidak selalu sejalan. Kondisi mangrove yang baik tidak selalu meningkatkan persepsi masyarakat maupun valuasi ekonomi, seperti yang terlihat di Batu Ampar. Sebaliknya, persepsi masyarakat yang tinggi dapat meningkatkan valuasi ekonomi dan menjaga kelestarian ekosistem, seperti di Nipah Panjang. Di Medan Mas, valuasi ekonomi yang tinggi justru memberi tekanan lebih besar terhadap ekosistem mangrove. Oleh karena itu, keberhasilan pengembangan ekowisata bergantung pada partisipasi masyarakat, kesadaran lingkungan, serta kebijakan pengelolaan yang berkelanjutan.

Saran

Untuk mendukung pengelolaan ekowisata mangrove yang berkelanjutan, diperlukan peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi. Kebijakan pengelolaan harus menyeimbangkan manfaat ekonomi dengan upaya konservasi berbasis komunitas. Diversifikasi sumber ekonomi, seperti budidaya madu kelulut dan ekowisata edukatif, dapat mengurangi tekanan terhadap ekosistem mangrove. Selain itu, rehabilitasi mangrove, terutama di Medan Mas, perlu dilakukan untuk mengatasi degradasi lingkungan akibat konversi lahan. Pengembangan infrastruktur ekowisata juga penting untuk meningkatkan aksesibilitas dan daya tarik wisata, sehingga manfaat ekonomi bagi masyarakat dapat lebih optimal tanpa merusak ekosistem mangrove.

 

 

Tinjauan Kritis Jurnal

Jurnal "Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata pada Hutan Desa di Kecamatan Batu Ampar Kalimantan Barat" memberikan kontribusi penting dalam memahami hubungan antara kondisi ekosistem mangrove, persepsi masyarakat, dan valuasi ekonomi berbasis ekowisata. Penelitian ini menggunakan metode Total Economic Value (TEV) untuk menghitung valuasi ekosistem mangrove, serta menganalisis persepsi masyarakat melalui pendekatan kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa ekosistem mangrove yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan valuasi ekonomi yang tinggi, sementara persepsi masyarakat berperan penting dalam keberhasilan pengelolaan ekowisata.

Kelebihan Jurnal

  1. Pendekatan Ekonomi yang Komprehensif
    • Menggunakan metode Total Economic Value (TEV) yang mencakup nilai manfaat langsung, tidak langsung, keberadaan, dan pilihan, sehingga memberikan gambaran ekonomi yang lebih holistik terhadap ekosistem mangrove.
  2. Studi Kasus yang Relevan dan Aktual
    • Fokus pada tiga desa dengan kondisi ekowisata mangrove yang berbeda, memberikan perbandingan nyata tentang bagaimana kondisi ekosistem dan persepsi masyarakat memengaruhi valuasi ekonomi.
  3. Data Kuantitatif yang Jelas
    • Menggunakan analisis data yang sistematis dan terukur, termasuk perhitungan ekonomi, indeks vegetasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk mengidentifikasi kondisi mangrove, serta analisis regresi untuk menghubungkan kondisi sosial dengan valuasi ekosistem.
  4. Kontribusi dalam Pengelolaan Ekowisata Mangrove
    • Menyediakan wawasan penting bagi pembuat kebijakan dan masyarakat lokal dalam mengelola ekowisata berbasis mangrove secara lebih berkelanjutan.

Kekurangan Jurnal

  1. Terbatasnya Analisis Faktor Sosial
    • Penelitian lebih menitikberatkan pada aspek ekonomi dan ekologi, tetapi kurang mendalami faktor sosial-budaya seperti pola kepemilikan lahan, kebiasaan masyarakat, atau faktor ekonomi rumah tangga yang dapat memengaruhi keterlibatan masyarakat dalam ekowisata.
  2. Metode Pengumpulan Data Persepsi Masyarakat Kurang Mendalam
    • Penggunaan kuesioner dengan skala Likert memberikan gambaran umum, tetapi kurang menggali alasan mendalam di balik jawaban responden. Pendekatan kualitatif seperti wawancara mendalam atau Focus Group Discussion (FGD) dapat memberikan pemahaman yang lebih kaya.
  3. Kurangnya Kajian Dampak Ekowisata Jangka Panjang
    • Studi ini tidak membahas bagaimana ekowisata berdampak terhadap ekosistem mangrove dalam jangka panjang, seperti potensi kerusakan akibat peningkatan wisatawan atau perubahan sosial-ekonomi masyarakat setelah ekowisata berkembang.
  4. Minimnya Rekomendasi Kebijakan yang Konkret
    • Meskipun jurnal ini mengidentifikasi tantangan dalam pengelolaan ekowisata mangrove, tidak ada rekomendasi yang jelas terkait kebijakan yang dapat diterapkan oleh pemerintah atau pihak terkait untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan ekowisata.
  5. Generalitas Model Hubungan Ekosistem, Persepsi, dan Valuasi Ekonomi
    • Model hubungan yang dibangun dalam penelitian ini masih bersifat umum dan belum mempertimbangkan faktor eksternal seperti regulasi pemerintah, peran swasta, atau dukungan lembaga konservasi dalam pengelolaan ekowisata mangrove.

Kesimpulan Tinjauan Kritis

            Jurnal ini memberikan wawasan berharga mengenai valuasi ekonomi ekosistem mangrove dan faktor sosial yang memengaruhi pengelolaannya. Keunggulannya terletak pada pendekatan ekonomi yang komprehensif, studi kasus yang relevan, dan data kuantitatif yang sistematis. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam analisis sosial, metode pengumpulan data, serta rekomendasi kebijakan yang lebih aplikatif. Pendekatan yang lebih holistik dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan solusi yang lebih efektif dalam pengelolaan ekowisata mangrove secara berkelanjutan.

 

Komentar

Postingan Populer